Mengenang Kembali . . .
Sabtu,
18 Juni 2011_ Dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, kereta yang kami tumpangi
berhenti tepat di stasiun “Kota Cirebon”. Kota ini tidak begitu asing bagiku,
meskipun ini kali pertama kakiku berpijak di kota ini. Suasana kotanya tidak
jauh berbeda dengan kota tempatku menimba ilmu, persamaan itu aku rasakan
karena senyuman manis dari kawan-kawan Unswagati terpancar dengan ramah ketika
kami beranjak dari pintu stasiun.
Rasa
bangga terpatri dalam hati, melaksanakan amanah sebagai anggota Eksekutif
Mahasiswa.
Suasana
hening ketika seminar nasional pendidikan yang bertajuk “Menggagas Peningkatan
Mutu Pendidikan Indonesia” mulai disampaikan oleh pemateri. Materi yang
bermutu, dengan gaya penyampaian yang energik membuatku terkagum oleh pemateri
yang pernah mengeyam pendidikan di negeri Sakura itu.
Bapak
Abur Mustikawanto yang juga kepala dinas Pendidikan Provensi Jawa Barat dengan
semangat yang berkobar menyampaikan masalah dan solusi pendidikan di indonesia
meskipun basic beliau adalah seorang fisikiawan.
Momen
itu pula tidak aku sia-siakan, berkenalan dan sedikit diskusi tentang fisika di
jepang.
Suasana
mulai memanas ketika diskusi antar mahasiswa dan pemateri, berbagai pertanyaan
mengenai problem dan fenomena pendidikan di berbagai daerah dilontarkan
mahasiswa tidak habis-habisnya, termasuk kaitannya dengan masalah terbesar
bangsa “korupsi”.
Hidup
Mahasiswa !!!
Di
aula hotel Sunyaragi kami menghabiskan waktu, bercek cok masalah Laporan
Pertanggungjawaban yang kemudian dilanjutkan dengan rencana kerja dua tahun
kedepan.
Satu
suara yang sering aku dengar, namun suara itu tidak merobohkan kehangatan
diskusi dengan kawan-kawan yang lain.
-----
Minggu,
19 Juni 2011_ Kebersamaan itu mulai terasa, dan semakin dekat. Canda dan tawa
lepas begitu saja tanpa mengenal struktural. Museum Linggarjati, Kuningann
hingga Kraton Cirebon suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Rasa saling
memiliki, Daerah Jawa I, Surabaya dan Yogja. Inilah Keluarga Ikatan Mahasiswa
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI).
Namun
kebersamaan itu harus pecah karna waktu, tepat di halaman masjid Kampus terbesar
di Cirebon itu semua tangan berjabat untuk berpamitan, pelukan hangat seolah
tak ingin berpisah.
Terkadang kita tidak tau kebahagiaan
itu dimana, tapi kereta progo yang kami tumpangi malam itu memberikan sejuta
kebahagiaan. Perjalanan yang sangat mengesankan, saat tidak ada lagi kursi
kosong, dan harus duduk dilorong kereta bersama Pak Sekjen Mas Wahid Yahya, Mba
Ananda Kiki, Mas Faris, Danang dan Alvera yang selalu cembrut selama
diperjalanan. Saat harus memasang wajah memelas di hadapan Bapak-Bapak dengan
tujuan di berikan tempat duduk tapi yang diberikan selembar kertas koran, saat
terbangun dini hari dengan kepala bersandar di bahu lelaki gondrong dan
bertato.
Haahh
itulah kebahagiaan yang harus terhenti di Stasiun Lempunyangan.
Post a Comment